Tegar Di Atas Sunnah

Kabar Muslimah

Usia

>> Senin, 24 Januari 2011

Mengkhawatirkan yang lebih tua meninggalkan dunia apakah yang muda merasa aman bahwa bukan dia yang dipanggil terlebih dahulu?
Mengkhawatirkan seorang yang terbaring tak berdaya sebab sakitnya, apakah yang sehat bugar merasa aman bahwa bukan dia yang dipanggil terlebih dahulu?

Seorang sahabat menasihati, "siap tidak siap, oish harus siap dengan berbagai kemungkinan yang ada."

Kematian itu sesuatu yang pasti bagi tiap yang hidup. Ketika Allah mentakdirkan kehilangan seseorang yang kita cintai, maka ianya bukanlah musibah yang meruntuhkan dunia. Allah yang Maha Mengetahui percaya bahwa kita mampu menghadapi musibah itu. Sebab Allah tidak akan menimpakan sesuatu yang tidak sanggup dihadapi hambaNya.

Yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan diri. Mempersiapkan diri menghadapi musibah atau kematian itu sendiri (yang akan datang pada kita). Allah memberikan ganjaran dan menggantikan dengan yang lebih baik bagi sesiapapun yang berkata Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un. Allahumma'jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik] ketika ditimpa musibah, lalu ia bersabar atas musibah itu.

Ya Rabb berkahilah umur ibu hamba, jadikan ia bersabar atas ujian yang Engkau berikan :(
__________________________________________
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Mereka itulah yang mendapatkan pujian dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Qs. Al Baqarah: 155-157)

Ummu Salamah radhiallahu 'anha mengisahkan: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa ditimpa musibah, selanjutnya ia berkata:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

"Niscaya Allah melimpahkan pahala kepadanya dalam musibah yang menimpanya itu dan menggantikannya dengan yang lebih baik dari apa yang telah sirna darinya." Dan tatkala suamiku Abu Salamah meninggal dunia, akupun mengucapkan ucapan itu, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan ternyata Allah menggantikanku dengan yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." (Riwayat Al Bukhari)

Read more...

Dendam, Sampah Hati Yang Menyiksa Diri

>> Minggu, 23 Januari 2011

Semua orang pasti pernah merasakan sebuah kemarahan. Pada titik ini biasanya tidak mudah bagi kita untuk bisa mengedepankan akal sehat karena belenggu emosi yang begitu kuat. Orang cenderung melakukan secara spontan apa saja yang terlintas pertama kali dalam benaknya. Dan kebanyakan episode seperti ini akan berakhir dengan kata penyesalan.


Benar- benar, amarah dan emosi yang ada dalam diri seseorang membakar kebaikan dan menjauhkannya dari keselamatan dan rahmat. Kasih sayang berubah menjadi bara yang siap menghanguskan siapapun yang mendekat. Dendam tidak mengenal kawan ataupun sahabat, yang diketahuinya hanyalah membalaskan sakit hati dan memuaskan amarah.

Dendam tidak lain hanyalah onggokan sampah hati yang membuat perakitnya semakin tersiksa dan menderita. Bukankah Allah juga maha memaafkan atas kekurangan, kelemahan dan kekhilafan manusia?

Lalu, mengapa manusia tidak banyak belajar untuk mencukupkan diri hanya dengan Allah Subhanahu Wata'ala, saja. ketika seseorang memenuhi hati, pikiran dan hari harinya hanya dengan Allah, maka sanjungan atau makian bukanlah sesuatu beban yang harus dipikirkan, dibenci atau disenangi orang bukan suatu masalah yang dapat mengganti jati diri kita. Ya, jati diri yang awalnya adalah sebagai manusia yang baik yang akan berganti menjadi pewaris dosa-dosa iblis ketika dia merelakan dirinya menjadi seorang pendendam.

Seseorang yang memenuhi hati nya hanya dengan Allah hanya akan memfokuskan diri untuk mengais pahala sebanyak banyaknya dari sang Maha memaafkan, yaitu dengan melapangkan hati untuk memaafkan sesamanya. Selain itu, pikirannya akan dengan luas digiringnya untuk menghabiskan sisa waktu hidup yang memang tidak lama, dengan sebaik-baiknya. Kejernihan akal sehatnya akan berkata, untuk apa hidup dengan masa lalu?, yang ada hanyalah kita belajar dari masa lalu untuk melangkah lebih mantab dimasa depan.

Dendam dan amarah sama sekali bukanlah solusi dalam hal apapun. Sama sekali tidak terkandung pelajaran atau hikmah apapun dari dua hal tersebut, kecuali bertambahnya bencana dan kesusahan. Namun jika hati telah terlanjur mengandung dendam, ada baiknya kita berkata pada diri sendiri bahwa kita sedang diuji dengan sakit hati atas kekhilafan saudara kita. Tapi bukankah Allah Maha adil atas segalanya, dan Lebih baik kita serahkan semua urusan kepada yang paling Maha mengurus. Then, Life must Go On…

sumber: disini

Read more...

The Right Man In The Right Place

>> Rabu, 19 Januari 2011

Kemarin saya menerima forward email yang cukup menarik dari rekan saya. Di samping berbicara tentang urgensi dan signifikasi relationship, isi email tersebut juga bisa dibilang semakin mengukuhkan jargon: the right man in the right place can make all the difference. Berikut adalah isi email tersebut:

Terdapat tiga kaleng Coca Cola. Ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama. Sebuah truk kemudian datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng Coca Cola menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal. Kaleng Coca Cola pertama diturunkan disini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng Coca Cola lainnya dan diberi harga Rp4.000.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana, kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas agar dingin dan dijual dengan harga Rp7.500.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang lima yang sangat mewah. Kaleng Coca Cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika ada yang memesan, kaleng ini dikeluarkan besama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng Coca Cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp60.000.

Pertanyaannya, mengapa ketiga kaleng Coca Cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama, dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama?

Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda. Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP.

Apabila Anda berada di lingkungan yang bisa mengeluarkan hal terbaik dari diri Anda, maka Anda akan menjadi cemerlang. Tapi bila Anda berada dilingkungan yang meng-kerdil-kan diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil.

(Orang yang sama, Bakat yang sama, Kemampuan yang sama) + Lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA.

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

مَثَلُ الْـجَلِيْسِ الصَّالـِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ. فَحَامِلُ الْـمِسْكِ إِمَّا أَنْ يَحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً

“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian jelaslah, teman/lingkungan pasti akan memberi pengaruh kepada seseorang. Dengarkanlah berita dari Al-Qur`an yang mulia tentang penyesalan orang zalim pada hari kiamat nanti karena dulunya ketika di dunia berteman dengan orang yang sesat dan menyimpang, hingga ia terpengaruh ikut sesat dan menyimpang.

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً. يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلاً. لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ

جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

“Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)


(sumber: blog Ustadz Adni http://adniku.wordpress.com/ dengan sedikit penambahan..

di tulis ulang dari note FB Afwan Khusus Muslimah)

Read more...

An - Naba

>> Selasa, 18 Januari 2011

Read more...

Anti Dapur

Padahal dulu, ketika masih berseragam abu - abu, dengan yakin aku mengambil suara untuk masuk dalam golongan wanita karir bila dewasa nanti. Gambarannya versi ku lebih kurang seperti ini: Perempuan tidak perlu memasak, kan bisa gaji pembantu untuk memasak serta bebersih rumah. Ada baby sitter juga untuk urus bayi, hoho. Pokoknya cari duit sendiri en gak mau bergantung pada suami. (tah hapa hapa kan? Ntah belajar dari siapa. Padahal ibuku seorang ibu rumah tangga tulen yang serba bisa. Ya masak, ya menjahit, ya mengurus anak, termasuk berpenghasilan sendiri meski dari rumah. Mungkin belajar dari film? Ntahlah aku juga lupa _ _"). Intinya dulu itu tidak pernah terfikir untuk jatuh cinta dengan rerupa pekerjaan rumah. Bebersih, memasak, mencuci baju, apalagi menjahit sendiri baju yang kusukai. Ah sungguh itu semua bukan jalan yang akan aku pilih bila dewasa nanti ketika dulu masih berseragam abu - abu!

Yang terjadi sekarang?
Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menikmati hari 'aku' (hari dimana aku bisa menikmati waktuku dengan menghabiskan detik demi detik itu bersama hal - hal yang kusukai) dengan memasak, rerupa pekerjaan rumah itu. Yey! Kami cinta memasak. Kakak perempuanku, aku, serta adik perempuanku alhamdulillah bisa memasak dan memiliki keahlian di masakan tertentu (narsis dikit gapalah..hoho).

Kepada perempuan berseragam abu - abu yang nyasar ke blog ku..mohon dipertimbangkan kembali jika saat ini kamu tidak peduli dengan masak memasak. Sstt...Memasak itu menyenangkan loh :smile:
Dan kebanyakan perempuan yang dulu mengambil pilihan yang sama - anti dapur-, mengakui kini mereka kelabakan bahkan malu sendiri mendapati suaminya jago memasak dibandingkan mereka. hihi..alhamdulillah aku dan kamu punya kesempatan untuk tidak seperti mereka nantinya (maaf ya kami belajar dari pengalaman kalian..:P)

______________________________________
gara - gara wak tik minta resep roti isi daging, mengingatkan dapur kala diriku di sini...terjebak di ruangan yang jauh sekali kemiripannya dengan dapur, hikz... (dapur tulisan siy iya :nyengir:)

Read more...
English French German Spain

Italian Dutch Russian Brazil

Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

tamu

Pengikut

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP