Tegar Di Atas Sunnah

Kabar Muslimah

Mensikapi HTS

>> Kamis, 19 Agustus 2010

Keimanan sunatullahnya naik dan turun. Begitu juga kesalehan, tak dapat diukur hanya dari sepotong label berjudul ikhwan, akhwat, anak ustadz, atau sekedar ngaji tak ngaji. Keimanan dan kesalehan lebih bermuara pada hati yang bersih, niat yang ikhlas, amal yang banyak manfaat dan perilaku yang mencerminkan akhlaqul karimah.

Seperti yang terungkap pada tulisan yang lalu, Hubungan Tanpa Status (HTS), sebuah fenomena pergaulan baru sebagai gejala rasionalisasi percintaan ala anak-anak muda yang mengaku aktivis dakwah. Ini jelas merusak kesucian hati. Mereka “punya rasa" satu sama lain, namun sedapat mungkin berupaya tidak melanggar pagar-pagar adab bergaul, yang kadang berhasil, kadang tidak. Mengaku tidak pacaran, tetapi kerap berdekatan. Secara fisik, juga emosi, Dalam rapat organisasi, dalam kegiatan kuliah, hingga aktivitas-aktivitas berlabel dakwah itu sendiri. Jalannya? Ya macam-macam. Pertemuan-pertemuan ‘tak’ disengaja, keperluan-keperluan yang terencana dengan memilih tempat-tempat umum dan terbuka bila ada perlu ‘berduaan’, atau saling telepon, sms, email hingga chatting yang bersambungan untuk bermacam urusan mulai dari yang penting hingga mengarah pada curhat soal pribadi. Itulah rasionalisasi. Makanya, meski tanpa ikrar maupun janji yang pasti, bisa dikatakan setiap orang tahu, siapa ‘punya’ siapa, atau siapa ‘ngetek’ siapa. Ya itulah yang terjadi pada ‘pelaku-pelaku’ HTS yang masih muda dan tengah menerima gempuran syahwat yang menerjang dari segala arah.


Soal suka-sukaan ini memang fenomena, jangankan yang sudah dewasa, yang baru lulus SD masuk SMP sudah banyak yang saling menelepon. Karena lingkungan sosial di luar ’mengajarkan’ begitu. Anak jadi terlalu cepat dewasa dan perempuan mulai kehilangan rasa malu. Kalau itu terjadi pada anak yang baru SMA, tingkat 1, tingkat 2, itu hal yang logis dan wajar, meski bukan hal yang benar. Tapi untuk yang sudah lebih dari itu, mestinya lebih bisa mengendalikan diri dan mengontrol emosi serta perasaannya.

Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa itu sesuatu yang sifatnya manusiawi. Pada dasarnya, memasuki usia remaja hormon-hormon seksual akan berkembang, sehingga sensitivitas setiap manusia terhadap lawan jenis pun berkembang pesat. Rasa suka dan ketertarikan ini tak perlu dibunuh. Sebab perasaan memang tak bisa dibunuh. Namun, perasaan ini dapat diredam, dan perilakunya tentu dapat dikendalikan dalam bingkai nilai yang benar.

Sebelum anak-anak muda kita semakin tak terarah, sebelum mereka merasa semakin jauh dan gersang dengan ‘rutinitas’ yang disodorkan, mari kita raih kembali hati mereka dengan menjadi orangtua sekaligus sahabat mereka. Lantas, bagaimana kita sernua menyikapi fenomena yang meresahkan ini?

Mengharapkan anak-anak muda ini sadar sendiri pun berat juga. Perlu ada penguatan hubungan batin diantara orangtua dan anak, murobbi dengan mutarobbi serta kontrol orangtua dan murobbi terhadap lingkungan pergaulan mereka.

Orang tua memegang peranan penting. Komunikasi dua arah yang sudah dijalin dengan baik sejak anak masih kecil akan merekatkan ikatan antara orangtua dan anak sampai mereka dewasa. Komunikasi yang dinilai paling efektif adalah saat orangtua menempatkan diri sebagai sahabat bagi anak-anaknya. Anak merasa bisa bicara apa saja dengan orangtuanya, termasuk membicarakan ketertarikan mereka pada lawan jenisnya. Dengan komunikasi yang lancar, orangtua bisa tahu semua perasaan anak-anaknya dan pada waktu yang tepat memberi saran, nasehat yang dibutuhkan anak, termasuk norma-norma agama yang tak boleh dilanggar dalam pergaulan lawan jenis. Satu lagi yang tak boleh diabaikan adalah kewibawaan orang tua. Walau orang tua bisa memposisikan diri sebagai teman atau sahabat buat anak, bukan berarti orangtua jadi hilang wibawa di depan anak-anaknya. Wibawa orangtua akan membuat anak taat pada segala kebaikan yang dipesankan ayah dan ibunya. Dimanapun dia akan selalu ingat nasehat kedua orangtuanya dan tak akan mengkhianati kepercayaan yang mereka berikan. Karenanya sudah selayaknya orangtua bisa membangun wibawanya di depan anak, selain juga harus bisa menjadi sahabat anak.

Berikutnya adalah murobbi. Peran murabbi sejak awal begitu besar buat para mutarabbi (binaan) dalam menapaki aktivitas dakwah juga dalam berperilaku. Murabbi yang aspiratif dan bersikap bagai sahabat adalah dambaan setiap mutarabbi. Wawasan yang luas soal pergaulan dan keterbukaan murabbi, terutama yang membina anak-anak muda, amat diperlukan. Berat memang, tapi tugas dakwah memang tak ringan.

Selanjutnya adalah peran lingkungan sosial. Makanya, meskipun setiap manusia memiliki kesamaan kecenderungan nafsu, namun implementasinya tergantung sekali pada lingkungan. Sebab lingkunganlah yang akan membentuk manusia akan jadi seperti apa dalam menjalani hidupnya. Dan ternyata, HTS antara seorang ikhwan dan akhwat biasanya sudah diketahui oleh ikhwah lainnya. Namun, entah merasa ini urusan pribadi seseorang, atau merasa sungkan untuk menegur, perilaku HTS ‘seolah’ mendapat tempat di kalangan aktivis muda. Rasa sungkan ini bisa berakibat fatal bagi kebersihan dakwah itu sendiri. Keberanian untuk saling menasehati adalah sumbangsih besar buat kelangsungan dan keberhasilan dakwah.

Boleh dibilang, anak tarbiyah sekarang adalah anak-anak yang tidak lahir dari masa-masa perjuangan dan tidak muncul dari proses kedewasaan yang utuh. Generasi seperti ini adalah generasi yang memahami sesuatu tidak dalam konteks bagaimana dia memperjuangkan itu. Maka timbullah gejala hipokritisme. Mereka akan berusaha mensiasati apa yang dimau. Ini boleh jadi ekses dari pola pembinaan atau tarbiyah yang makin kehilangan orientasi. Solusinya tarbiyah harus memberikan ruang lebih bagus. Berikan mereka pemahaman yang lebih substantif, seperti tauhid dan perjuangan.

Fenomena HTS di kalangan aktivis dakwah sebagai sebuah pe-er bagi para pengarah manhaj tarbiyah untuk memikirkan kondisi pergaulan masa kini secara komprehensif baik dari sisi syariah, psikologis maupun sosial. Pelakunya memang individu, tetapi perilaku mereka tentu juga sangat dipengaruhi kebijakan-kebijakan sistem tarbiyah itu sendiri. Karena itu dengan kontrol yang diimbangi solusi taktis yang jelas, kita berharap bisa meminimalisasi rasionalisasi-rasionalisasi dari pelaku tarbiyah untuk berlarut-larut terbuai dalam hubungan tanpa status. Amiin ya robbal ’alamin.

sumber: lentera kehidupan

Read more...

katakan InsyaAllah

>> Selasa, 17 Agustus 2010

"sepp..insyaAllah kita bertemu di lobi RS jam 11 ya", sebait sms dariku sebelum mendapati bahwa ternyata itu pulsa terkahir.

Manusia berencana, namun dengan ijin Allah yang Maha Berkehendak lah segala sesuatunya dapat berjalan dengan lancar tanpa halangan sedikitpun. Inilah yang terjadi hari ini. Berencana hendak membesuk sahabat ketika di SMA yang sedang terbaring lemah di RS tidak berjalan mulus sesuai rencana yang telah ku rancang.

Tugas yang tak terelakkan serta tidak ada satupun yang bersedia sebentar saja menggantikan peranku untuk menangani bisnis yang kami jalani ini (
maklum masih ada yang berpendapat, puasa membuat jam segini -jam 11 siang- sangat berarti untuk mengganti jam tidur..hihi), memaksa diri untuk menerima kenyataan ini "oh tidaaakk...!! tidak ada yang mengerti posisiku!" (
gusraaakk...lebay.comm). Apa yang kulakukan? Tentu saja segera mengatur rencana berikutnya (..Dengan ijin Mu ya Allah, semoga Engkau perkenankan :) ). Menjadual ulang rencana membesuk. Yang tadinya janjian di lobi Rumah Sakit jam 11, berubah menjadi jam 2-an.

Ya. Hal - hal yang tak terduga bisa datang begitu saja. Pulsa yang ternyata habis, ketika hendak mengisi ada client yang tiba - tiba saja datang. Rekan yang menggantikan kurang tidur sehingga butuh istirahat dan baru siang bisa menggantikan. Urusan dengan client yang belum selesai. Membantu adik yang mengundang tamu untuk menyiapkan ifthar di rumah. MasyaAllah..semuanya datang begitu saja, jauh dari dugaan ketika mengatur jam janjian untuk membesuk bersama.

Nasib, negosiasi pengaturan ulang jadual besuk berbenturan dengan teman yang lain. Yasudahlah..Tekad sudah membulat maka harus ditunaikan "Pokoknya meskipun sendiri, hari ini hamba tetap membesuk hambaMu yang sedang sakit ya Rabb. Mudahkan jalan hamba wahai Allah yang Maha Pengasih ;)!"

Masih di ruko. Sambil menunggu jam dua tiba, ada hal menarik yang terus saja kupikirkan meski jemariku sibuk klik sana klik sini demi membaca semua artikel menarik. Tentang InsyaAllah
"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu : " Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) 'Insya Allah'." ( QS Al Kahfi : 23-24).
Betapa ianya menjadi sebuah kebutuhan untuk senantiasa disertakan dalam perbuatan yang hendak dilakukan. Sebuah adab. Sebuah pernyataan bahwa kita telah bertekad, berazzam hendak menunaikan suatu perbuatan. Jelas ada kesungguhan untuk memenuhinya, namun semuanya itu kita kembalikan kepada Allah yang Maha Mengetahui. Menyandarkan segala urusan pada kehendak Allah. Mmm..tetapi ini bukan seperti yang pernah kita temukan dalam keseharian mereka yang menggunakannya -insyaAllah- sebagai suatu ucapan dengan niat untuk tidak bersungguh - sungguh dengan janjinya loh ya. Lalu kelak ketika orang yang dijanjikan datang menuntut janji yang belum terpenuhi itu, seenaknya berdalih "kan aku bilang insyaAllah" (??? sungguh mengherankan _ _")

Alhamdulillah tiba di Rumah Sakit dengan selamat, meski sempat salah lift. Seharusnya aku menggunakan lift dari pintu belakang bukannya lift dari pintu utama. Jadi aja nyasar ke kamar inap ibu bersalin (*blushing*).

Subhanallah nya, aku bertemu sahabat SMA ku yang kemarin berhalangan hadir ifthar di rumahku. Wow...ternyata inilah kenapa Allah menakdirkan aku untuk datang jam 2-an saja. Karena Dia Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Aku bertemu teman yang dari kemarin sangat ingin kutemui, tapi selalu saja tidak pas waktunya.

(ditulis pada 17Agust'10, tapi baru disempurnakan dan dipublish 18Agust'10..hehe)




Read more...

Kiat Sukses Jadi Muslim Pengusaha

>> Senin, 16 Agustus 2010

Pengusaha yang sukses tidak hanya sekedar kaya secara materi. "Pengusaha yang sukses adalah pengusaha yang sukses dunia maupun akhirat. Itulah para Muslim Pengusaha, " tutur Winarto AR pada workshop bertajuk " How to Start a Business" yang digelar komunitas pengusahamuslim.com di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Winarto, seorang Muslim yang ingin sukses menjadi pengusaha harus memenuhi dua kriteria. Selain harus profesional papar dia, seorang Muslim pengusaha pun harus memiliki basis syariah. "Yakni, menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam bisnisnya," ungkap pengusaha dan konsultan properti ini.

Berbekal kedua kreiteria itu, lanjut Winarto, bisnis pun akan berkah, mudah, dan lancar. Ia menambahkan, Muslim pengusaha yang baik selalu berhati-hati dalam menjalankan roda bisnisnya sehingga tidak tergelincir pada hal-hal yang dilarang atau dimurkai Allah SWT. " Pengusaha yang telah berbisnis selama puluhan tahun itu menegaskan, seoarang Muslim pengusaha tak boleh mengurangi takaran atau timbangan dan juga dilarang menyuap. Anda tentu bertanya langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan oleh seorang Muslim agar menjadi pengusaha sukses?

Pendiri dan Chairman PT Zahir Internasioanl Fadil Fuad Basymeleh, mengungkapan, setidaknya ada 10 langkah untuk menjadi Muslim Pengusaha yang berhasil, Pertama, harus ada motivasi yang kuat untuk menjadi orang yang sukses."tulislah 50 mimpi Anda yang hebat-hebat. Tempel daftar tersebut di dinding sehingga anda bisa membacanya setiap hari, terutama di saat semangat Anda menurun."

Kedua, pekuat tawakal kepada Allah. Fadil pun mengutip Alquran surat Ali Imran ayat 159, yang artinya," Apabila kamu suda berazam, maka bertawakallah kepada Allah." Menurut dia, dengan bertawakal, seorang Muslim akan menitipkan masa depan diri, keluarga, maupun usaha kita kepada Allah sambil berikhtiar.

Peraih penghargaan wirausahawan terbaik dan APICTA Award untuk produk Zahir Accounting itu menambahkan, kunci sukses yang ketiga, yakni jangan memaksakan diri untuk berbisnis sesuai dengan gambaran ideal yang anda miliki.

"Mulailah dengan peluang dan kesempatan yang ada di tangan Anda. Percayalah kepada takdir dan rezeki Allah."

Keempat, pilihlah bisnis yang dapat anda kuasai dengan cepat. "Intinya , manfaatkan tangible dan intangible assets yang and miliki, tuturnya. Langkah kelima adalah menentukan diferensiasi produk yang Anda hasilkan, sehingga berbeda dengan produk-produk lain yang sudah lebih dulu ada.

Langkah keenam, kata Fadil, pilihlah fokus bisnis dan bekerjalah secara fokus."Kalau fokus, kita akan lebih kuat dan kreatif." Tuturnya. Langkah ketujuh, mencakup dua hal. Yakni, carilah teman bisnis atau bermitralah. "Rosulullah menegaskan bahwa bila dua orang berserikat, maka Allah menjadi pihak yang ketiga, selama kedua orang atau salah satu orang tersebut tidak khianat. Usaha yang didalamnya Allah ikut serta sudah pasti berkah dan sukses."

Selain itu, jangan takut menggaji pegawai. "Jangan khawatir soal gaji karyawan. Sebab, yang menanggung rezeki karyawan kita itu adalah Allah SWT, bukan kita. Dalam Alquran Surah Az-Zukhruf ayat 32, Allah SWT menegaskan, akan menjamin rezeki makhluk-makhluk-Nya, termasuk karyawan kita."

Langkah kedelapan, hal yang tidak kalah pentingnya adalah perkuat kesabaran."Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu." Kada Fadil. Langkah kesembilan, hindari perbuatan dosa dan maksiat. Sebab, hal tersebut akan membuat hidup sempit dan tidak berkah.

Langkah kesepuluh, pelajarilah kunci-kunci pembuka rezeki."Kalau semua langkah ini diterapkan Insya Allah kita akan menjadi pengusaha yang sukses dunia dan akhirat."pungkasnya.

Sumber : Koran Republika 24 Mei 2009

diperoleh dari: pengusaha muslim


Read more...

kesungguhan

>> Jumat, 13 Agustus 2010

Ada yang menarik dari ceramah Ramadhan tadi malam..

Selain ust. yang terbilang masih muda, materi yang disampaikannya sarat akan ilmu yang sejatinya sering lalai dalam ingatan kita. Apakah ini karena kita terlampau mudah menganggapnya menjadi hal remeh? Terlalu sering membuat dalih pembenaran? Tentang kesungguhan. Kesungguhan kita dalam mengerjakan ketaatan pada Allah.

Read more...
English French German Spain

Italian Dutch Russian Brazil

Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

tamu

Pengikut

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP