Tegar Di Atas Sunnah

Kabar Muslimah

FB

>> Rabu, 25 Agustus 2010

"Perempuan klo sudah menikah, sebaiknya tidak fesbukan.", pendapat abang saya sebagai seorang lelaki.

"Tapi..", lanjutnya. Bagaimana kelanjutan dari "tapi"? Nanti saya bagi :P

Facebook, sejauh ini saya sangat setuju dengan pendapat penulis disini. Bisa jadi dengan fesbukan ada manfaatnya. Semisal, memasarkan bisnis, menghubungkan, mempertemukan kita dengan kawan lama yang telah bertahun - tahun kehilangan komunikasi. Bahkan dengan kecanggihan yang difasilitasi fesbuk, mampu memperpendek jarak bermil - mil. Seakan tiada tembok pembatas lagi antara kita dengan sesiapapun yang hendak kita temui. Menyapa, mengobrol, berbagi cerita, hobi, dan gambar, menjadi teramat mudah. Sayangnya, bila kita kurang berhati - hati mensiasati nafsu, maka yang terjadi adalah jempol ini dengan mudahnya membagi hal - hal pribadi yang seharusnya tidak perlu dibagikan ke khalayak banyak., lewat apdetan status. Sebenarnya pula bahasa status itu hanya ditujukan ke orang tertentu saja. Semisal seorang atau beberapa orang yang memang memiliki keterikatan emosional akan hal yang dimaksud. (Nahloh?? tapi dibaca banyak orang)

Saya pribadi punya akun fesbuk. Pertama, ianya demi mempertemukan dan menghubungkan saya dengan kawan lama yang jaraknya bermil - mil jauhnya. Manfaat kedua, tempat curhat saya ketika tulisan tidak mengenal waktu dan tempat, seenaknya berdesak - desakan hendak segera keluar dari kepala saya. Terkadang membaginya dengan bahasa singkat ala status, seringnya lewat note.

Namun kemudian, saya memutuskan untuk meninggalkan akun tersebut setelah mendengar lalu memikirkan masak - masak nasehat seorang ust dalam tanya jawab 'Bahaya fitnah syahwat' yang diasuhnya. Ketika itu ada yang bertanya "Apakah boleh seorang wanita bergabung di facebook?". Jawab beliau yang saya tangkap yakni: meskipun niat kita bergabung fesbuk adalah bertujuan dakwah, namun kita tidak pernah tahu kapan kita tergelincir (seperti yang diungkapkan dalam tulisan 'ketika iffah mulai luntur (dibalik fenomena facebook'). Karena sunnatullah nya, iman itu naik turun. Untuk lebih jelasnya, silakan simak nasehat tentang Facebook disini.

Ohiya tentang lanjutan obrolan dengan abang saya tadi. Dia bilang begini untuk menanggapi saya yang telah memutuskan off dari fesbuk, "tapiii....karena kamu belum nikah ini. Ya gapapa kale fesbukan. Kali aja ketemu jodoh..haha". (Ealaaahh gusraaakk _ _").

Abang yang gaul memang. Tetapi setidaknya membuat saya tahu pendapat jujur lelaki melihat fenomena wanita dengan facebook-nya. Semakin membulatkan niat untuk meningglkan akun. Lalu kembali menjalin silaturahmi dan berdakwah sebagaimana biasanya sebelum mengenal fesbuk.

Demikian kenapa YM saya jarang ol dan ID saya tidak kawan - kawan temukan lagi di Facebook. Semoga Allah senantiasa memberikan pertolonganNya agar tulisan - tulisan yang ada bermanfaat bagi kita semua. Dan insyaAllah silaturahmi tetap terjalin meski tanpa f-e-s-b-u-k...daripada lewat fesbuk, klo ada yang mau kirim kolak langsung ke rumah aja yaa. lebih nyata dayooo :)..hehe

Read more...

Perempuan dan Beladiri

>> Selasa, 24 Agustus 2010

"Sebelum datang ke dojo, saya sudah mencari tahu apa - apa saja yang terkait dengan beladiri ini. Termasuk sejarah, istilah - istilahnya, serta prinsip dari tiap gerakan dalam beladiri ini. Dari apa yang saya ketahui, saya percaya setiap gerakan yang ada tidak membuat saya kehilangan fitrah saya sebagai perempuan. Maksudnya, meski ianya sebuah beladiri yang didominasi kaum lelaki, namun pola gerakan yang berprinsip untuk mempertahankan diri dari serangan dan bukan menyerang, menjadikannya cocok dengan apa yang saya cari dalam mempelajari dan menguasai ilmu beladiri. Ditambah pula, sepertinya saya tetap bisa berpenampilan feminim, Sei. Tidak kelaki-lakian (Hehehe..padahal cukup kaku dan formal di awal memperkenalkan diri. Tapi melihat sensei dan minnasan yang pembawaannya ramah, membuat saya sedikit lebih rilex :D). Karenanya saya memutuskan memilih bergabung -pada beladiri tersebut- diantara banyak beladiri yang ada! Mohon bantuannya. Sekian. Doumo arigatou."

Tidak ada yang tahu ketika itu, pengamatan selama latihan membuat saya pulang ke rumah membawa kebimbangan.


Perjumpaan pertama telah membuat saya jatuh hati pada beladiri itu, pada matras itu. Akan tetapi, memutuskan untuk totally terjun ke dalamnya dengan segala konsekuensi yang ada? (Yakni campur baur dengan lelaki) Membuat saya berat untuk datang kembali. Terlebih sensei yang sedikit banyaknya memahami adab pergaulan dalam islam (asyiiikk nemu sensei yang paham agama..jarang-jarang ih), ternyata tidak bisa bertindak lebih dengan memberi pengecualian bagi saya untuk tidak berpasangan dengan rekan lelaki dalam setiap latihan. Nahloh? Bagaimana ini? Bersalaman dengan yang bukan mahram aja berat banget dosanya.

Jadilah pergelutan yang hebat antara logika dan hati. Si logika mengatakan kepada saya bahwa beladiri dirasa perlu bagi saya, terlebih jaman yang kini makin edan. Pelecehan dan tindakan kriminal yang kerap mengintip para perempuan. Tidak siang tidak malam. Keluar rumah bersendiri mulai tidak aman, meski keluar rumahnya perempuan bertujuan untuk hadir di halaqoh sekalipun. Lagipula dengan beladiri tubuh menjadi sehat. Ini modal yang bagus bila suatu saat harus terjun ke medan dakwah yang berat? (ke masjid yang banyak anak tangganya maksudnya, jadi biar gak ngos-ngosan menapaki tiap anak tangga..hehehe)

Tibalah giliran sekeping hati untuk menyampaikan argumentasinya. Cukup dengan bicaranya yang lembut dan vokal yang jelas, mengingatkan satu hal saja: Wahai diri..bila engkau menemukan tidak ada yang salah akannya, lalu mengapa engkau meragu untuk segera bergabung?

Logika kalah telak. Surat mengundurkan diripun langsung disampaikan kepada sensei. Karena sadar sebenarnya ia tidak benar - benar memiliki dalih pembenaran yang membolehkannya. Lagipula dalam sadarnya, jauh sebelum jatuh hati pada matras itu, pada seni beladiri dari jepang itu. Kehidupan telah mengajarkan satu hal penting: Bila saja mengijinkan diri melakukan kesalahan kecil, maka bersiaplah terjebak untuk melakukan kesalahan - kesalahan kecil lainnya. Maksudnya, bila diri sekali saja membuat dalih pembenaran untuk mebolehkan diri kita melanggar apa yang jelas - jelas dilarang agama, maka kedepannya pertahanan kita menjadi lemah. Tak sanggup bertahan ketika nafsu berbisik menggoda "ah gapapa. sekali ini saja kok. lagian bukan dosa besar inikan?"

"Apa yang kamu lakukan jika suatu saat seorang penjahat menyerangmu?" logika dari luar datang membujuk kembali, berusaha menggoyahkan keputusan membulat yang telah memilih suara hati untuk tidak jadi bergabung.

Alhamdulillah. Kini, kesabaran itu berbuah hasil. InsyaAllah tahun depan mereka berencana membuka dojo khusus perempuan.

Beladiri memang perlu. Tetapi menjaga hijab lebih utama :)


_____________________________________
artikel terkait:
Mengintip Seputar Campur Baur Laki-Laki dan Perempuan

Read more...

This is not for everyone

>> Senin, 23 Agustus 2010

Perjalanan itu penuh liku. Ada naik ada datar, tanjakan, kadangkala pula curam. Meski tidak menutup kemungkinan ada yang lurus mulus saja.

Perjalanan itu banyak pilihan pula. Ada yang butuh berbelok dahulu. Ada yang perlu di lalui dengan berbagai rute. Namun, ada pula yang lurus mulus saja.

Bermuaranya pada satu tujuan: Penghambaan. Penghambaan kepada Allah Ta'ala. Seperti yang sering kita lafazkan setiap harinya dalam shalat - shalat kita. Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.

Ada yang menangis dalam tawanya, adapula yang bahkan tidak mampu menangis dalam sedih. Ada yang tersadar ketika jatuh, ada pula yang tak sadar kenapa dia perlu terjatuh.

Ketika seseorang bercerita kepadaku bahwa dia butuh lima tahun untuk menjadi sekarang, menegakkan dan menunaikan shalat sebagimana perintah Allah. Dan semakin meningkat kesungguhan untuk benar - benar menjalankan perintah Allah ketika ujian keikhlasan menimpa keluarganya -Merelakan ruh yang kembali ke Rahmat Illahi-. Apa yang dirasa olehnya -aku butuh perjalanan berbelok, be-rute untuk menyadari kekhilafan, lalu datang bersungguh - sungguh kepada Allah.- Kesediaannya untuk bertutur, berbagi hikmah, maka satu yang pasti bagi aku dan dia: this is not for everyone. this will always be mine.. (mengutip lirik Quatro-nya The Morning After)


Mengapa begitu? Karena kita adalah makhluk yang lemah. Allah yang Maha Berkehendak lah yang menjadikan perjalanannya sebagai jembatan baginya untuk menemukan Hidayah Allah. Dan Allah yang Maha Berkehendak jua lah yang menjadikan sesiapapun yang mendengar pengalaman hidupnya mampu menjadikannya pelajaran untuk semakin jatuh cinta pada Allah. Pada islam. Pada harapan akan Ridho Nya.

This is not for everyone adalah sesuatu yang tak bisa dijelaskan kepada sesiapapun jua bila ia datang padamu. Hanya bisa di bagi. Karenanya ketika tidak ada seorang pun yang mengerti apa yang kau rasa? Allah yang Maha Mengetahui Maha Berkehendak, lebih memahami hamba Nya.

Kita tidak pernah tahu apa, kapan, dan bagaimana hidayah Allah datang kepada kita. Namun, ketika kita rasakan petunjuk Allah itu datang memenuhi rongga dada. Maka, bersegeralah menyambut petunjuk itu. Datang dan menghadapkan wajah kepada Allah. Takbir dan bersujud.


semoga senantiasa istiqomah
senantiasa bersabar, ikhlas dalam mengerjakan ketaatan pada Allah



Read more...

Pertemuan rezeki dan jujur

>> Jumat, 20 Agustus 2010

Suatu ketika, aku kehilangan sebuah handphone. Mungkin karena handphone tersebut baru saja ada di tanganku, jadinya tidak terbiasa dan belum akrab akan kehadirannya (hehe). Karena kelalaian itu, jadi aja ketika handphone tersebut jatuh dari saku baju, ianya tidak terasa. Padahal saat itu, aku dan adik mendengar ada suara benda jatuh. Kami hanya saling bertanya ada apa (nahloh?? gusraaakk...). Adik sempat meminta ku untuk cek ban belakang apakah ada yang nyangkut. Juga memastikan plat kendaraan di belakang apakah masih berada di tempatnya atau tidak? Semuanya aman, jawabku. Sungguh, sama sekali tidak terfikirkan, handphone di saku kananku lah yang barusan meloncat dari saku akibat melaju kencang di jalanan berlubang itu.

Setiba di warnet. Keringat mengucur deras di dahi. Kurogoh saku baju kanan. Memastikan sekali lagi saku sebelah kiri, tiap detail tas, meja warnet, atau mana saja tempat yang kuhampiri. Tidak ada! Aku tak menemukannya dimanapun. "dimana handphone ku?".

Sebisa mungkin berusaha menguasai diri dari garis - garis panik yang semakin tajam. Semua pengontrolan diri seketika lemah dan membuat asaku lemas lunglai ketika nada tersambung ke nomor handphone tersebut, diangkat oleh suara berat milik seorang lelaki. "astaghfirullah..siapa orang yang sedang bicara di seberang sana? Kenapa handphone ku ada sama dia?"

Penuturannya, handphone tersebut ia temukan di jalan. Ditunggunya cukup lama, berharap aku menyadari kehilangan handphone, lalu berhasil menemukan titik lokasi jatuhnya sang handphone. Tetapi aku tidak kunjung terlihat. Tidak pula ada yang datang mengakui kepemilikan. Malam yang semakin pekat memanggilnya pulang. Satu jam menungu di rasa cukup baginya. Sebuah pesan ia tinggalkan ke pedagang kios sekitar, meninggalkan nomor handphone miliknya bila sewaktu - waktu pemilik hp datang mencari hape nya. Bahkan ia telah pula menghubungi nomor yang ia duga kakak dari pemilik handphone. Namun, sayangnya suara di seberang kebingungan. Sama halnya seperti suara yang ia temukan saat ini. Suara si pemilik handphone.

"Maaf mas, batre hp saya benar - benar kosong. Tinggal menunggu off. Adik saya sedang dalam perjalanan menuju ke tempat anda. Maaf banget merepotkan, mohon ditunggu di tempat anda berada sekarang."

-------------------------------sambungan terputus.

Apakah mungkin handphone ku benar - benar kembali ke tanganku? Ini seperti mimpi saja. Aku berada dalam titik tidak berdaya kecuali pertolongan dari Allah.

Maha Suci Allah yang Maha Penolong, mengatur sedemikian rupa ke tangan siapa handphone tersebut ditemukan, pada orang yang menjadikan kejujuran adalah hal terpenting dalam hidup. Sehingga handphone ku kembali dengan selamat ke tanganku. Bahkan lelaki yang menemukannya tidak meminta imbalan apapun atas perbuatannya.

Hari itu menjadi kisah tak terlupakan dan membuatku tersipu malu dengan kebaikan Allah. Ketika Allah sudah berkehendak memberikan rejeki, maka siapakah yang dapat menghalanginya? Subhanallah.

Read more...
English French German Spain

Italian Dutch Russian Brazil

Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

tamu

Pengikut

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP